Breaking News

Minggu, 30 Oktober 2016

Pahlawan Wanita Berkerudung Syar'i Yang Terlupakan


"Kartini" yang tidak pernah dimunculkan profilnya. Pengaruhnya dalam dunia pendidikan begitu nyata. Bahkan sekaliber Al-Azhar Mesir pun terinpirasi dari tindakan beliau. Dan, point yang tidak kalah penting, pakaian anggun dengan kerudung yang menutup dada itu sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka.. Allahu Akbar..

Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (1900-1969) adalah salah satu pahlawan wanita milik bangsa Indonesia, yang dengan hijab syar'i-nya tak membatasi segala aktifitas dan semangat perjuangannya.

Rahmah, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru, pejuang pendidikan, pendiri sekolah Islam wanita pertama di Indonesia, aktifis kemanusiaan, anggota parlemen wanita RI, dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika Rahmah bersekolah, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, menjadikan perempuan tidak bebas dalam mengutarakan pendapat dan menggunakan haknya dalam belajar. Ia mengamati banyak masalah perempuan terutama dalam perspektif fiqih tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki, sementara murid perempuan enggan bertanya. Kemudian Rahmah mempelajari fiqih lebih dalam kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi, dan tercatat sebagai murid-perempuan pertama yang ikut belajar fiqih, sebagaimana dicatat oleh Hamka.

Setelah itu, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Lil Banaat (Perguruan Diniyah Putri) di Padang Panjang sebagai sekolah agama Islam khusus wanita pertama di Indonesia. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tekadnya, "Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?"

Rahmah meluaskan penguasaannya dalam beberapa ilmu terapan agar dapat diajarkan pada murid-muridnya. Ia belajar bertenun tradisional, juga secara privat mempelajari olahraga dan senam dengan seorang guru asal Belanda. Selain itu, ia mengikuti kursus kebidanan di beberapa rumah sakit dibimbing beberapa bidan dan dokter hingga mendapat izin membuka praktek sendiri.
Berbagai ilmu lainnya seperti ilmu hayat dan ilmu alam ia pelajari sendiri dari buku. Penguasaan Rahmah dalam berbagai ilmu ini yang ia terapkan di Diniyah Putri dan dilimpahkan semua ilmunya itu kepada murid-murid perempuannya.

Pada 1926, Rahmah juga membuka program pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu rumah tangga yang belum sempat mengenyam pendidikan dan dikenal dengan nama Sekolah Menyesal.

Selama pemerintahan kolonial Belanda, Rahmah menghindari aktifitas di jalur politik untuk melindungi kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Ia memilih tidak bekerja sama dengan pemerintah penjajah. Ketika Belanda menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri didaftarkan sebagai lembaga pendidikan terdaftar agar dapat menerima subsidi dari pemerintah, Rahmah menolak, mengungkapkan bahwa Diniyah Putri adalah sekolah milik ummat, dibiayai oleh ummat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah. Menurutnya, subsidi dari pemerintah akan mengakibatkan keleluasaan pemerintah dalam memengaruhi pengelolaan Diniyah Putri.

Kiprah Rahmah di jalur pendidikan membuatnya mendapatkan perhatian luas. Ia duduk dalam kepengurusan Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Pada 1935, ia diundang mengikuti Kongres Perempuan Indonesia di Batavia. Dalam kongres, ia memperjuangkan hijab sebagai kewajiban bagi muslimah dalam menutup aurat ke dalam kebudayaan Indonesia.
Pada April 1940, Rahmah menghadiri undangan Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh. Ia dipandang oleh ulama-ulama Aceh sebagai ulama perempuan terkemuka di Sumatera.

Kedatangan tentara Jepang di Minangkabau pada Maret 1942 membawa berbagai perubahan dalam pemerintahan dan mengurangi kualitas hidup penduduk non-Jepang. Selama pendudukan Jepang, Rahmah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi perang, Rahmah bersama para ADI mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi penduduk yang kekurangan. Ia memotivasi penduduk yang masih bisa makan untuk menyisihkan beras segenggam setiap kali memasak untuk dibagikan bagi penduduk yang kekurangan makanan. Kepada murid-muridnya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada pada Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk penduduk.
Selain itu, Rahmah bersama para anggota ADI menentang pengerahan perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur untuk tentara Jepang. Tuntutan ini dipenuhi oleh pemerintah Jepang dan tempat prostitusi di kota-kota Sumatera Barat berhasil ditutup.

Terimbas oleh Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang terjun ke politik lebih dahulu, dan dengan kondisi Indonesia yang semakin terpuruk oleh penjajah Jepang, akhirnya Rahmah terjun ke dunia politik. Ia bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Hahanokai di Padang Panjang untuk membantu perjuangan perwira yang terhimpun dalam Giyugun (semacam tentara PETA).

Seiring memuncaknya ketegangan di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya. Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 1944 dan 1945 di Padang Panjang, Rahmah menjadikan bangunan sekolah Diniyah Putri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan.
Hal ini membuat Diniyah Putri mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Jepang. Menjelang berakhirnya pendudukan, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei dan Rahmah duduk sebagai anggota peninjau.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah mendapatkan berita tentang proklamasi kemerdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In, Muhammad Sjafei, Rahmah segera mengibarkan bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Putri. Ia tercatat sebagai orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di sekolahnya menjalar ke seluruh pelosok daerah.

Ketika Komite Nasional Indonesia terbentuk sebagai hasil sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 22 Agustus 1945, Soekarno yang melihat kiprah Rahmah mengangkatnya sebagai salah seorang anggota.

Pada 5 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan dekrit pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pada 12 Oktober 1945, Rahmah memelopori berdirinya TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia memanggil dan mengumpulkan bekas anggota Giyugun, mengusahakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari harta yang dimilikinya. Bersama dengan bekas anggota Hahanokai, Rahmah mengatur dapur umum di kompleks perguran Diniyah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi yang dibentuk di Padang Panjang.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda kedua, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Rahmah meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan mendekam di tahanan wanita di Padang Panjang. Setelah tujuh hari, ia dibawa ke Padang dan ditahan di sebuah rumah pegawai kepolisian Belanda berkebangsaan Indonesia. Ia melewatkan 3 bulan di Padang sebagai tahanan rumah, sebelum diringankan sebagai tahanan kota selama 5 bulan berikutnya.

Pada Oktober 1949, Rahmah meninggalkan Kota Padang untuk menghadiri undangan Kongres Pendidikan Indonesia di Yogyakarta. Ia baru kembali ke Padang Panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada akhir 1949. Rahmah bergabung dengan Partai Islam Masyumi. Dalam pemilu 1955, ia terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Sumatera Tengah. Melalui Konstituante, ia membawa aspirasinya akan pendidikan dan pelajaran agama Islam.

Pada 1956, Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir, Abdurrahman Taj, berkunjung ke Indonesia dan atas ajakan Muhammad Natsir, berkunjung untuk melihat keberadaan Diniyah Putri. Imam Besar tersebut mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Putri, sementara Universitas Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan.

Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Usai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir memenuhi undangan Imam Besar Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, Rahmah mendapat gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar, dimana untuk kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan itu pada perempuan.

Hamka mencatat, Diniyah Putri mempengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kuliyah Qismul Banaat (kampus khusus wanita) di Universitas Al-Azhar. Sejak saat itu Universitas Al-Azhar yang berumur 11 abad membuka kampus khusus wanita, yang diinspirasi dari Diniyah Putri di Indonesia yang baru seumur jagung.

Sebelum kepulangannya ke Indonesia, Rahmah mengunjungi Syria, Lebanon, Jordan, dan Iraq atas undangan para pemimpin negara tersebut.

Sekembalinya dari kunjungan ke berbagai negara di Timur Tengah, Rahmah merasa bahwa Soekarno telah terbawa arus kuat PKI. Ia merasa tidak nyaman berjuang di Jakarta, kemudian memilih kembali pulang ke Padang Panjang. Rahmah melihat bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruannya akan lebih bermanfaat daripada duduk di kursi parlemen sebagai anggota DPR yang sudah dikuasai komunis. Ketika terjadi PRRI di Sumatera Tengah akhir 1958, akibat ketidaksetujuan atas sepak terjang Soekarno, Rahmah ikut bergerilya di tengah rimba bersama tokoh-tokoh PRRI dan rakyat yang mendukungnya.

Pada 1964, ia menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Sejak itu hingga akhir hayatnya, hidupnya didedikasikan kembali sepenuhnya untuk Diniyah Putri.




Tampak pada foto, pahlawan ini mengenakan hijab syar'i dan baju kurung basiba dengan cara yang anggun, elegan dan modern yang menampakkan kecerdasannya dan kemajuannya dalam berpikir.
Read more ...

Sabtu, 29 Oktober 2016

Gerakan Yang Menggerakkan


Era guru baru, guru di abad 21 telah dimulai. Hampir semua guru dituntut untuk mampu beradaptasi dan mengembangkan kompetensi maupun skillnya sesuai dengan tuntutan zaman hari ini. Maka, jika hari ini kita masih menemukan guru yang malas dan enggan belajar, patut dipertanyakan keabsahannya sebagai guru. Karena sesuai dengan amanat Undang-undang yang telah menempatkan guru sebagai sebuah profesi, maka seorang guru harus memiliki kecakapan-kecakapan khusus yang berkaitan dengan kemampuan kompetensinya sebagai pendidik dan pengajar. Hal ini tidak akan dapat terpenuhi jika guru tidak mau belajar.

Terlebih berkaitan dengan penguasaan teknologi informasi, banyak guru yang masih "gaptek" dan terus-menerus memelihara kondisi ini hingga kini. Padahal jika kita sadari anak-anak didik kita telah beberapa langkah lebih maju dalam hal penguasaan teknologi. Tentu satu hal yang tidak kita inginkan adalah ungkapan "Siswa abad 21 dan Gurunya abad 19" makin meruntuhkan citra guru di hadapan anak didik kita.

Banyak alasan memang yang mengemuka ketika masalah ini terlontarkan. Mulai dari rendahnya kemampuan beradaptasi dengan perangkat IT hingga masalah kesejahteraan untuk pemenuhan kebutuhan perangkat-perangkat teknologi. Padahal melalui regulasi guru telah diatur tentang tunjangan profesi guru yang seharusnya adalah dipakai untuk memenuhi kebutuhan guru dalam rangka meningkatkan kompetensi dan skillnya untuk tujuan peningkatan kualitas pembelajaran yang bermakna dan berbasis masa kini. Namun kenyataannya survey membuktikan, bahwa sebagian besar tunjangan profesi yang telah dikucurkan oleh pemerintah tidak digunakan untuk hal peningkatan mutu guru akan tetapi digunakan untuk hal-hal lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan mutu guru.

Di samping itu, banyak pula guru  yang menganggap sudahlah cukup berdiri di depan kelas, menerangkan pelajaran, membuat catatan untuk para siswa kemudian pulang pada waktunya dan bertemu kembali esoknya demikian terus-menerus hingga menjadi rutinitas ikut andil menjadikan mutu guru saat ini terjun bebas dan anjlok.

Maka, para guru hari ini membutuhkan sebuah gerakan, sebuah wadah yang mampu menggerakkan dan menghidupkan kembali semangat belajar itu. Wadah yang tak cukup hanya dengan pengarahan, petunjuk atau menempatkan guru sebagai penggembira saja, akan tetapi wadah yang benar-benar membuat guru itu belajar, belajar, dan belajar sehingga merubah mind set seorang guru yang malas belajar menjadi pantang mengajar kalau tidak belajar.

Ikatan Guru Indonesia atau IGI setidaknya lahir untuk cita-cita ini. Jauh sebelum menjadi Organisasi Profesi seperti hari ini IGI telah menjawab tantangan itu, tantangan tanggung jawab organisasi profesi guru untuk memajukan mutu guru. Hal ini dapat terlihat dari berbagai kegiatan-kegiatan pembelajaran guru yang telah IGI selenggarakan, baik yang bersifat tatap muka ataupun dalam jaringan. Karena IGI menganggap bahwa untuk menghasilkan generasi bangsa terbaik yang kini tersebar di seluruh satuan pendidikan di Indonesia harus dimulai dengan mendidik para gurunya. Maka tidak heran apabila hampir 24 jam non stop pelatihan-pelatihan maupun workshop-workshop diselenggarakan oleh IGI, semuanya berpulang untuk membuat para guru cerdas dengan muatan ilmu pengetahuannya juga keterampilannya mengoperasikan perangkat-perangkat teknologi sebagai media penunjang pengajaran dan pembelajaran.

Gerakan IGI juga bukan bukan hanya sekali yang membuat banyak guru jatuh hati. Ada sekian gerakan yang telah dibuat dan menyasar ribuan guru di nusantara ini yang terbentang dari Aceh sampai Papua. Ada gerakan SAGUSALA (Satu Guru Satu Laptop), gerakan SAGUSANOV (Satu Guru Satu Inovasi), gerakan SAGUSAKTI (Satu Guru Satu KTI), gerakan SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku), gerakan SAGUSATAB (Satu Guru Satu Tablet), gerakan SAGUSABLOG (Satu Guru Satu Blog), dan lain-lain yang semuanya menuntut para guru terlibat aktif dan produktif menghasilkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran berbasis teknologi informasi.

Apa yang Ikatan Guru Indonesia lakukan juga menarik perhatian banyak pihak, mulai Lembaga Pemerintahan, Kementerian, BUMN, hingga pihak swasta dan raksasa-raksasa teknologi melirik untuk bekerja sama meningkatkan kompetensi guru di Indonesia. Dengan gencarnya IGI bergerak, semoga harapan baru bagi meningkatnya kemampuan guru menyongsong guru hebat di abad 21 mampu terwujud dan cita-cita besar pendidikan nasional dapat diraih dengan gemilang. 

Read more ...

Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam

Kompetensi Guru

Kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Kompetensi yang dimilki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam menagajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Artinya guru bukan saja harus pintar, tetapi juga harus pandai mentransfer ilmunya kepada peserta didik (Fathurrahman dan Sutikno, 2007: 44). Guru dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogis, personal, profesional, dan sosial.
Menurut Muhammad Surya yang dikutip Ramayulis (2005: 60) kompetensi guru agama sekurang-kurangnya ada empat, yaitu:
  1. Menguasai substansi materi pelajaran
  2. Menguasai metodologi mengajar
  3. Menguasai teknik evaluasi dengan baik
  4. Memahamai, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai moral dan kode etik profesi.
Pemerintah dalam kebijakan pendidikan nasional telah merumuskan kompetensi guru ada empat, hal tersebut tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial (Presiden Republik Indonesia, 2005).
  • Kompetensi Pedagogik

Istilah pedagogik diterjemahkan dengan kata ilmu mendidik, dan yang dibahas adalah kemampuan dalam mengasuh dan membesarkan seorang anak (Nata : 142). Kompetensi pedagogik digunakan untuk merujuk pada keseluruhan konteks pembelajaran, belajar, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut (Wikipedia: 2011). Kompetensi pedagogik bertumpu pada kemungkinan pengembangan potensi dasar yang ada dalam tiap diri manusia sebagai makhluk individual, sosial dan moral (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka, 1998/1999: 15).
Secara lebih sederhana terkait dengan guru, kompetensi pedagogik berarti kemampuan guru dalam mengelola kelas sedemikian rupa agar tujuan pendidikan dapat tercapai, yang didalamnya terdapat banyak hal cakupannya.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 dijelaskan tentang kompetensi pedagogik, meliputi :
  1. Menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya
  2. Mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran
  3. Menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan (Kementerian Pendidikan Nasional, 2011)
  • Kompetensi Kepribadian (Personal)

Dalam lingkungan sekolah, khususnya ketika guru berada di kelas untuk melaksanakan proses pembelajaran, karakteristik kepribadian akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan peserta didik. Kepribadian guru yang baik akan menjadi teladan bagi anak didiknya, sehingga menjadi sosok yang memang sudah selayaknya menjadi contoh dan patut ditiru. Dengan kepribadian yang baik guru mempunyai wibawa untuk selalu dihormati dan dipatuhi oleh siswa. Penghormatan dan kepatuhan siswa tumbuh dari kewibawaan guru karena bisa mengayomi, melindungi, mengarahkan dan menjadi teladan bagi siswa. Tanpa harus melalui cara-cara yang bersifat menakutkan.
Menurut Sukmadinata (2000: 192-193), kompetensi personal mencakup :
  1. Penampilan sikap yang positif terhadap tugas-tugas sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan.
  2. Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang semestinya dimiliki oleh guru.
  3. Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai suri teladan bagi para siswanya.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008, yang masuk kedalam kompetensi personal ini yaitu:
  1. Beriman dan bertakwa.
  2. Konsisten dalam menjalankan kehidupan beragama dan toleran.
  3. Berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur.
  4. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, individualitas dan kebebasan memilih.
  5. Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat.
  6. Menampilkan kinerja berkualitas tinggi.
Guru dalam kesehariannya, terutama dalam proses pembelajaran harus sesuai perkataaan dengan perbuatan, bersikap merendahkan diri, dan tidak merasa malu dengan ucapan “tidak tahu” (Fahmi, 1979: 169). Konsistensi dalam berperilaku baik setiap hari merupakan bentuk pengejahwentahan untuk menjadi sosok yang patut menjadi teladan siswa-siswanya. Tidak merasa malu dengan ucapan “tidak tahu” ketika anak lebih tahu dulu ketimbang gurunya. Hal ini karena pada era globalisasi arus informasi bergerak dengan cepat, sehingga seringkali guru terlambat mendapatkan informasi yang baru dalam hal-hal tertentu dibandingkan siswanya.
Kompetensi personal atau kepribadian ini merupakan kemampuan guru menampilkan tentang pengetahuan agama, sosial, budaya dan estetika yang berbasis kinerja.
  • Kompetensi Profesional

Sebagai pendidik profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, akan tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional (Sukmadinata: 191). Guru profesional adalah guru yang melaksanakan tugas keguruan dengan kemampuan tinggi (profisiensi) sebagai sumber kehidupan (Syah: 230).
Dalam kaitannya profesionalisme guru, Nata (2003: 142-143) menyebutkan ada tiga ciri, yaitu :
  1. Guru yang profesional harus menguasai bidang ilmu pengetahuan yang akan diajarkan dengan baik, benar-benar seorang ahli dibidangnya. Guru selalu meningkatkan dan mengembangkan keilmuannya sesuai dengan perkembangan zaman.
  2. Guru yang profesional harus memiliki kemampuan menyampaikan atau mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada siswa secara efektif dan efisien, dengan memiliki ilmu kependidikan.
  3. Guru yang profesional harus berpegang teguh kepada kode etik profesional sebagaimana disebutkan di atas. Kode etik di sini lebih menekankan pada perlunya memiliki akhlak mulia.
Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Mengerti tujuan proses pembelajaran terhadap materi yang diajarkan dan hasil yang akan didapat. Guru mengampu mata pelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang dimilikanya, atau dengan kata lain bekerja secara proporsional.
  • Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan kerja dan lingkungan kerja (Sukmadinata: 192). Memahami dasar, tujuan, organisasi, dan peran pihak-pihak lain (guru, wali kelas, kepala sekolah, komite sekolah) di lingkungan sekolah (Kementerian Pendidikan Nasional: 2008).
Menurut Goleman (2007: 114), kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan terbentuk karena adanya kesadaran sosial yang bisa merasakan keadaan bathiniah orang lain sampai memahami perasaan dan pikirannya. Hal tersebut meliputi :
  1. Empati dasar. Perasaan dengan orang lain; merasakan isyarat-isyarat emosi nonverbal.
  2. Penyelarasan. Mendengarkan dengan penuh reseptivitas; menyelaraskan diri pada seseorang.
  3. Ketepatan empatik. Memahami pikiran, perasaan dan maksud orang lain.
  4. Pengertian sosial. Mengetahui bagaimana dunia sosial bekerja.   
Berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat para ulama tentang kompetensi  yang harus dimiliki oleh Guru Pendidikan Agama Islam, yaitu:
1.    Menurut Al Ghazali, mencakup: a) Menyajikan pelajaran dengan taraf kemampuan peserta didik, b) Terhadap peserta didik yang kurang mampu, sebaiknya diberi ilmu-ilmu yang global dan tidak detail.
2.    Menurut Abdurrahman al-Nahlawy, meliputi:a) Senantiasa membekali diri dengan ilmu dan mengkaji serta mengembangkannya, b) Mampu menggunakan variasi metode mengajar dengan baik, sesuai dengan karekteristik materi pelajaran dan situasi belajar mengajar, c) Mampu mengelola peserta didik dengan baik, d) Memahami kondisi psikis dari peserta didik, e) Peka dan tanggap terhadap kondisi dan perkembangan baru.
3.    Menurut Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, mencakup: a) Pemahaman tabiat, minat, kebiasaan, perasan, dan kemampuan peserta didik, b) Penguasaan bidang yang diajarkan dan bersedia mengembangkannya.
4.    Menurut Ibnu Taimiyah, mencakup: a) Bekerja keras dalam menyebarkan ilmu, b) Berusaha mendalami dan mengembangkan ilmunya.
5.    Menurut Brikan Barky Al Qurasyi, meliputi a) Penguasaan dan pendalaman atas bidang ilmunya, b) Mempunyai kemampuan mengajar, c) Pemahaman terhadap tabiat, kemampuan dan kesiapan peserta didik. 
       Jadi, dari beberapa pendapat para ulama tentang kompetensi dasar Guru Pendidikan Agama Islam tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa seorang Guru itu harus pandai dan bisa menguasai dan mengembangkan ilmunya. Selain itu seorang Guru harus bisa mengetahui keadaan psikis seorang peserta didik.

Sifat Guru Pendidikan Agama Islam


Seiring dengan tekad Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan, muncul ketentuan tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang tenaga pendidik profesional. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, adalah berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sementara itu, pada Pasal 5 UU No. 14 Tahun 2005 tersebut dinyatakan bahwa kedudukan dosen sebagai tenaga professional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran sebagai agen pembelajaran, pengembang IPTEK, serta pengabdi kepada masyarakat.
Adapun beberapa sifat yang harus dimiliki oleh Guru Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:
a.       Zuhud 
Yakni tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari keridhaan Allah semata. Seorang guru menduduki tempat yang tinggi dan suci, maka ia harus tahu kewajiban yang sesuai dengan posisinya sebagai guru. Dalam arti mengajar dengan tujuan keridhaan Allah dan kemaslahatan bagi masyarakat bukan untuk tujuan material saja. Sekalipun menerima gaji itu tidak bertentangan dengan maksud mencari keridhaan-Nya tapi hanya sebagai penutup kebutuhan-kebutuhan hidup.
b.      Kebersihan Guru
Seorang guru harus bersih tubuhnya, jauh dari dosa besar, sifat riya’, dengki, permusuhan, perselisihan, dan lain-lain. 
c.       Ikhlas dalam pekerjaan
Keikhlasan dan kejujuran seorang guru dalam pekerjaannya merupakan jalan terbaik ke arah suksesnya tugas yang diembannya dan kesuksesan murid-muridnya.
d.      Suka pemaaf
Seorang guru harus bersifat pemaaf terhadap muridnya, ia sanggup menahan diri, menahan kemarahan, lapang hati, banyak sabar, dan jangan pemarah karena sebab-sebab yang kecil serta memiliki kepribadian dan harga diri.
e.       Seorang guru merupakan seorang bapak bagi murid-muridnya
Seorang guru harus mencintai murid-muridnya seperti cintanya terhadap anak-anaknya sendiri dan memikirkan keadaan mereka seperti seperti ia memikirkan keadaan anak-anaknya sendiri.     
f.       Harus mengetahui tabi’at murid
Guru harus mengetahui tabi’at pembawaan, adat kebiasaan, rasa, dan pemikiran murid agar ia tidak tersesat dalam mendidik anak-anaknya.
g.      Harus menguasai mata pelajaran
Seorang guru harus sanggup menguasai mata pelajaran yang diberikannya, serta memperdalam pengetahuannya tentang hal tersebut.

Syarat-syarat Guru Pendidikan Agama Islam

Adapun syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang Guru Pendidikan Agama Islam, yaitu:
1. Penguasaan Materi Pelajaran
          Materi pelajaran merupakan isi pengajaran yang dibawakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sulit dibayangkan, bila seorang guru mengajar tanpa menguasai materi pelajaran. Bahkan lebih dari itu, agar dapat mencapai hasil yang lebih baik, guru perlu menguasai bukan hanya sekedar materi tertentu yang merupakan bagian dari suatu mata pelajaran saja tetapi penguasaan yang lebih luas terhadap materi itu sendiri agar dapat mencapai hasil yang lebih baik.
2. Kemampuan Menerapkan Prinsip-Prinsip Psikologi
     Mengajar pada intinya bertalian dengan proses mengubah tingkah laku. Agar memperoleh hasil yang diinginkan secara baik perlu menerapkan prinsip-prinsip psikologi, terutama yang berkaitan dengan belajar agar seorang guru dapat mengetahui keadaan peserta didik.
3. Kemampuan Menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar
     Kemampuan menyelenggarakan proses belajar mengajar merupakan salah satu persyaratan utama seorang guru dalam mengupayakan hasil yang lebih baik dari pengajaran yang dilaksanakan. Kemampuan ini memerlukan suatu landasan konseptual dan pengalaman praktek. Oleh sebab itu, lembaga-lembaga pendidikan lebih fokus dalam menyiapkan calon guru dengan memberikan bekal-bekal teoritis dan pengalaman praktek kependidikan.
4. Kemampuan Menyesuaikan Diri dengan Berbagai Situasi Baru
          Secara formal maupun profesional tugas guru seringkali menghadapi berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan tugas profesionalnya. Perubahan pada bidang kurikulum, pembaharuan dalam sistem pengajaran, serta anjuran-anjuran dari atas untuk menerapkan konsep-konsep baru dalam pelaksanaan tugas, seperti CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), sistem belajar tuntas, sistem evaluasi, dan sebagainya seringkali mengejutkan. Hal ini membawa dampak kebingungan para guru dalam melaksanakan tugas.

Implementasi Kompetensi Guru dalam Pembelajaran PAI

Kunci keberhasilan tergantung pada diri guru dan siswa dalam mengembangkan kemampuan berupa keterampilan-keterampilan yang tepat untuk menguasai kekuatan kecepatan, kompleksitas, dan ketidakpastian, yang saling berhubungan satu sama lain (Rose dan Nicholl, 2002: 11). Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing-masing (Purwanto, 2003: 157).
Guru harus menguasai metode mengajar, menguasai materi yang akan diajarkan dan ilmu-ilmu lain yang ada hubungannya dengan ilmu yang akan diajarkan kepada siswa. Juga mengetahui kondisi psikologis siswa dan psikologis pendidikan agar dapat menempatkan dirinya dalam kehidupan siswa dan memberikan bimbingan sesuai dengan perkembangan siswa (Ramayulis: 52).
Guru sebelum mengelola interaksi proses pembelajaran di kelas, terlebih dahulu harus sudah menguasai bahan atau materi apa yang akan dibahas sekaligus bahan-bahan yang berkaitan untuk mendukung jalannya proses pembelajaran. Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran di kelas (Fathurrahman dan Sutikno: 47). Dengan menguasai materi pelajaran, maka guru akan lebih mudah dalam pengelolaan kelas. Selain itu guru menjadi lebih mudah dalam memilih strategi belajarnya agar tujuan yang hendak dicapai dalam materi pelajaran tersebut berhasil terwujud.
Penguasaan bahan ajar yang berkaitan dengan materi pokoknya dari ilmu-ilmu lain seringkali sangat dibutuhkan dalam memberikan penjelesannya. Hal ini menjadi sebuah kebutuhan dimasa sekarang, dimana arus informasi begitu cepat untuk diketahui siswa.
Dengan menkorelasikan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan ilmu lain akan menjadikan proses pembelajaran lebih bermakna dan semakin mudah dipahami siswa. Tidak sekedar mata pelajaran yang bersifat dogmatis. Apalagi kalau ditinjau lebih kedalam, pemahaman tentang Islam sendiri juga beragam, sehingga tidak heran jika dalam memahami Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber pokok dalam Islam banyak sekali pendapat yang berbeda, bahkan tidak sedikit yang bertolak belakang.
Terhadap bahan dari ilmu lain yang ada hubungannya dengan materi pelajaran PAI, guru tidak harus tahu secara mendetail. Cukuplah gambaran umum sebagai penunjang untuk memahami materi pokoknya. Berikut beberapa contohnya :
  1. Dalam materi tentang Iman Kepada Hari Kiamat. Dalam praktiknya agar pembelajaran lebih bermakna dan mudah dipahami, guru sedikit banyak tahu tetang ilmu astronomi, fisika, biologi, kimia, matematika, vulkanologi, demografi dll. Guru seharusnya juga tahu tentang gejala atau fenomena-fenomena alam yang menjadi pemberitaan media massa, baik tingkat lokal, regional maupun global.
  2. Materi tentang Iman kepada Qadha dan Qadar. Agar pembelajaran bermakna maka dalam menyampaikan contoh konkrit tidak cukup sebatas mati, rizki, jodoh. Setidaknya guru juga tahu banyak contoh lain, yang jika ditinjau dari ilmu lain akan lebih memudahkan dalam pemahaman dan penerapannya, serta dapat meningkatkan keimanan siswa. Mulai dari ilmu bumi, kedokteran, sosial dan budaya, geografi, dan lain-lain.
  3. Pemahaman tentang mati suri. Pada acara Kick Andy yang disiarkan salah satu stasiun televisi, pernah menayangkan orang yang mati suri secara langsung. Orang yang mati suri melibatkan warga Muslim, dan agama yang lain. Akibat dari tayangan itu, muncul kegundahan dalam diri siswa dalam memahami konsep kematian. Karena dari empat orang yang “diuji coba” mati suri dengan latar belakang agama yang berbeda, ternyata pengalamannya berbeda-beda. Untuk menjelaskan hal tersebut, setidaknya guru perlu tahu sedikit ilmu kedokteran, anatomi, dan psikologi. Pada akhirnya muara dari penjelasan mati suri masuk ke dalam materi Qadha Qadar dan Kiamat Sughra. Tentunya dengan penjelasan yang mengglobal tersebut lebih memudahkan pemahaman siswa tentang ajaran Islam dari hasil tayangan di televisi.
Oleh karena itu, perlunya guru PAI senantiasa mengembangkan wawasan keilmuan yang berhubungan langsung dengan materi pelajaran, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dan dapat membantu pemahaman siswa. Kompetensi yang perlu dimiliki diantaranya yaitu guru memperhatikan “seni mengajar dan mendidik”, guru tidak cukup hanya memiliki pengetahuan yang diajarkan tetapi juga harus memiliki pengetahuan tentang psikologi anak, mengetahui tingkat kesiapan belajar mereka dan bakat intelektualnya.
Read more ...

Blog Guru Pendidikan Agama Islam SD Islam Al Bina Masohi

Blog Guru PAI adalah sarana untuk mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pengalaman baru berbasis teknologi informasi. 
Blog ini dibuat dalam rangka workshop Satu Guru Satu Blog yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia sekaligus sebagai media pembelajaran yang dapat ditampilkan dan dipergunakan di kelas.


Terima kasih Ikatan Guru Indonesia
Terima Kasih Mr. Mung, selaku mentor SAGUSABLOG. 
Read more ...

Jumat, 28 Oktober 2016

Soal PAI Kelas 4 : Kisah Nabi Adam AS dan Nabi Muhammad SAW

Kerjakanlah soal- soal berikut!

Read more ...

Kamis, 27 Oktober 2016

Soal PAI Kelas 5 : Nabi Ayub, Nabi Musa dan Nabi Isa

Kerjakan soal berikut ini dengan baik dan benar!

Read more ...

IGI dan Laptop Baru






Pernah mendengar ada guru yang sampai hari ini tidak mampu untuk menghidupkan dan mematikan laptop? atau pernah mendengar ada guru  yang takut memegang Mouse? Terdengar lucu dan aneh memang tetapi kenyataannya hari ini guru-guru kita banyak yang masih Tertinggal kemampuannya dalam penggunaan IT terutama pemanfaatan laptop dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di kelas.

Adalah di Besi, salah satu negeri yang terletak di kecamatan seram Utara Kabupaten Maluku Tengah provinsi Maluku. Sebuah desa di pesisir pantai Utara Pulau Seram yang memiliki akses transportasi ke ibukota Kabupaten Maluku Tengah lumayan mudah walaupun dengan kondisi jalan yang cukup menantang untuk masuk ke desa ini dan untuk akses informasi masyarakat juga telah terbiasa menggunakan handphone sebagai alat komunikasi. 

Meskipun kecil,  di desa Besi terdapat beberapa jenjang sekolah mulai dari TK, SD, SMP, MTS, dan MA. Dan boleh dikatakan masing-masing Sekolah Telah Memiliki perangkat IT yang memadai untuk digunakan sebagai media pembelajaran,  namun demikian masih ditemukan banyak guru yang tidak mampu untuk mengoperasikan perangkat-perangkat tersebut, terutama guru yang ada di jenjang Sekolah Dasar.

Melihat hal ini pengurus Ikatan Guru Indonesia atau IGI tidak tinggal diam. Dengan bermodalkan semangat untuk berbagi dan tumbuh bersama, maka beberapa pengurus berinisiatif untuk turun menyapa sekaligus membimbing para guru Sekolah Dasar yang ada di desa Besi terkait dengan pemanfaatan perangkat laptop guna menunjang guru dalam tugasnya di sekolah.  Ada hal yang menggelitik dan membuat pengurus IGI terheran-heran adalah kenyataan bahwa ternyata guru-guru sekolah dasar di Besi telah difasilitasi oleh Kepala Sekolah dengan memberikan 1 buah laptop untuk masing-masing guru namun selama hampir 6 bulan laptop yang diberikan tidak pernah sama sekali dihidupkan dan masih tersimpan rapi di dalam tempatnya. Ketika ditanya Kenapa demikian, jawabannya cukup simple bahwa mereka tidak mengerti Bagaimana menggunakannya. 

Dengan hadirnya IGI dan menjadi awal  hidupnya laptop-laptop baru  mereka sungguh memberikan Harapan Baru yang tergambar dari senyum kepuasan ketika berhasil membuat sesuatu dengan laptopnya walau hanya sekedar sebuah daftar nilai dalam format Microsoft Excel. Ada begitu banyak komentar takjub dan ketidak percayaan keluar dari lisan mereka, seolah tak percaya ternyata mereka juga bisa. 
Kegiatan yang berlangsung hanya beberapa jam tersebut telah menjadi sesuatu hal yang luar biasa dan spesial bagi mereka. Dengan bekal perkenalan yang telah IGI berikan, mereka berjanji mulai saat itu akan berinteraksi lebih banyak dengan laptop baru mereka agar tidak tertinggal dengan guru-guru yang ada di tempat lain. Secara terpisah, Kepala Sekolah juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kesempatan IGI datang menyapa mereka. Kepala Sekolah tak lupa menyebutkan, bahwa untunglah ada IGI sehingga laptop yang telah diberikan kurang lebih 6 bulan berhasil dimanfaatkan untuk menunjang kinerja guru dengan mudah, cepat dan akurat.

“Terima kasih IGI telah membuat laptop baru kami menyala.” Demikian ungkapan salah satu guru. “Teruslah datang dan melatih kami, agar kami mampu dan bisa mengajar menggunakan laptop.” Sambung guru yang lain. Ada haru di hati pengurus IGI sekaligus menjadi motivasi besar untuk tetap menjadi garda depan peningkatan kualitas guru. Semoga tetap menyala laptop-laptop baru itu seiring tercerahkannya semangat dan optimis mereka menghadapi tantangan guru hebat di abad 21.





Besi, 21 Oktober 2016
Darno Yusuf Mulyono


Read more ...

Materi PAI Kelas 5 : Kisah Nabi Ayub AS, Nabi Musa AS, dan Nabi Isa AS

Kisah Nabi Ayub AS, Nabi Musa AS, dan Nabi Isa AS


Kompetensi Dasar :
1. Siswa mampu menceritakan kisah Nabi Ayub AS
2. Siswa mampu menceritakan kisah Nabi Musa AS
3. Siswa mampu menceritakan kisah Nabi Isa AS



1. Kisah Nabi Ayub AS

Nabi Ayub adalah putra dari Nabi Ishak bin Ibrahim AS. itu berarti Nabi Ayub adalah cucu dari Nabi Allah yang mulia Ibrahim AS. Beliau seorang Nabi yang kaya raya. sawah dan ladangnya sangat luas, tanamannya subur, dan binatang ternaknya sangat banyak. beliau mempunyai beberapa putra yang baik dan berbudi.

Nabi Ayub seorang yang suka mendermakan hartanya untuk fakir miskin, yatim piatu, dan memuliakan tamu. Kekayaan yang dimiliki tidak melalaikan ibadahnya kepada Allah dan tidak menyebabkan ia sombong.

Karena kemuliaan Nabi Ayub AS tersebut Allah memberikan beberapa ujian kepadanya melalui permohonan setan, di antaranya :
1. Allah memberikan cobaan dengan mengambil semua harta Nabi Ayub AS. walaupun hartanya habis dan jatuh miskin, Nabi Ayub tetap teguh imannya.
2.  Semua putra-putri kesayangannya Nabi AYub yang patuh dan berakhlak baik meninggal dunia. Walaupun demikian Nabi Ayub tetap menghadapinya dengan rela dan sabar.
3. Allah mencoba Nabi Ayub dengan menderita sakit kulit selama kurang lebih 7 tahun. kondisi Nabi Ayub AS sangat memprihatinkan. Tubuh Nabi Ayub AS tidak ada yang utuh kecuali lisan dan hatinya. Walaupun dengan kondisi demikian, beliau tetap teguh imannya dan bertambah ibadahnya.

Kemalangan yang diderita oleh Nabi Ayub AS membuat semua saudara, dan bahkan istrinya menjauhinya, kecuali istri yang sangat setia dan penyabar yaitu Rahmah. Rahmah dengan sabar merawat Nabi Ayub AS. Semua ujian itu adalah permohonan setan pada Allah karena setan iri terhadap Nabi Ayub AS. Dengan sabar dan tabah Nabi Ayub AS menjalani ujian tersebut dan terus berdoa kepada Allah agar disembuhkan penyakitnya. Doa Nabi Ayub AS dikabulkan oleh Allah SWT dan beliau bisa sembuh seperti sedia kala. Kekayaannya kembali seperti dulu lagi dan dianugerahi kekayaan yang berlipat ganda.



2. Kisah Nabi Musa AS

   a. Kelahiran Nabi Musa AS

Nabi Musa anak dari Imran bin Yasar. Ibunya bernama Yukabad binti Dahat, dari keturunan Bani Israil. Nabi Musa dilahirkan di Mesir yang ketika itu di bawah kepemimpinan Raja Fir'aun yang zalim. Fir'aun seorang yang takabur, sombong, dan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Bagi yang tidak patuh dan tidak mempercayai dia sebagai Tuhan akan dihukum mati.

Pada suatu malam Fir'aun bermimpi. Dalam mimpinya ia melihat mahkotanya direbut oleh seorang laki-laki dari Bani Israil. Setelah bangun, ia memerintahkan para ahli nujum untuk mencari tahu tafsir tentang mimpinya itu. Para ahli nujum memberitahu bahwa mimpi itu memberi isyarat akan datangnya seorang laki-laki dari Bani Israil yang menjatuhkan kekuasaan Raja Fir'aun.

Mendengar hal itu, Raja Fir'aun segera memrintahkan bala tentaranya untuk membunuh bayi laki-laki yang baru lahir. Mendengar keputusan Raja Fir'aun, ibunda Nabi Musa merasa takut jika nanti melahirkan kemudian bayinya dibunuh. Setelah Yukabad melahirkan bayi yang diberi nama Musa, Allah mengilhamkan agar bayi itu dihanyutkan ke sungai Nil. atas izin Allah, bayi itu dibawa arus dalam sebuah peti menuju kolam pemandian istana Fir'aun. Peti itu ditemukan istri Raja Fir'aun yang bernama Siti Asiah. Ia membawa bayi itu ke hadapan Raja Fir'aun dan hampir saja membunuhnya. Asiah berkata "Janganlah engkau bunuh bayi ini karena saya menyayanginya. Sebaiknya kita jadikan anak. Bukankah kita tidak mempunyai anak?" Sejak itulah Musa menetap di istana Fir'aun dan menjadi anak angkatnya.

   b. Masa Dewasa Nabi Musa AS

Setelah Musa dewasa, Allah memberikan anugerah kepadanya berupa ilmu pengetahuan dan hikmah. Pada suatu ketika, Nabi Musa berjalan-jalan melihat keadaan kota, tiba-tiba, ia bertemu dengan dua orang yang sedang berkelahi. Satu orang golongan Qibti (golongan kerajaan) yang satu dari golongan Bani Israil (golongan Nabi Musa). Ketika Nabi Musa AS hendak mendamaikan keduanya, orang Qibti tidak mau berdamai. Dia sangat sombong karena merasa berasal dari golongan raja. karena tidak mau, Nabi Musa menamparnya hingga jatuh dan meninggal.

Nabi Musa menyesali kejadian itu, ia pun memohon ampun kepada Allah. Berita kematian orang Qibti itu sampai kepada Fir'aun. Ia memerintahkan tentaranya untuk menangkap Nabi Musa AS. akan tetapi sebelum itu terjadi, ada seseorang yang memberitahu tentang rencana Fir'aun. Dia menyarankan agar Nabi Musa AS segera meninggalkan Mesir. Nabi Musa AS pun menurutinya, ia pergi sejauh-jauhnya tanpa tahu arah yang dituju.Nabi Musa AS berhenti di sebuah tempat, di sana ia melihat banyak penggembala sedang mengambil air untuk kambing-kambing mereka, diantara para penggembala itu ada dua orang gadis yang sedang menunggu. Nabi Musa AS pun menolong kedua gadis tersebut. Kemudian Nabi Musa AS ditawari untuk singgah di rumah orang tua gadis itu, yang tidak lain adalah Nabi Syu'aib AS. Akhirnya Nabi Musa AS untuk menjadi menantunya.




3. Kisah Nabi Isa AS
 
    a. Kelahiran Nabi Isa AS

Nabi Isa lahir di kota Betlehem atau Palestina pada tahun 622 Sebelum Masehi. Nabi Isa adalah putra dari Maryam. Kakeknya bernama Imran yaitu seorang tokoh Bani Israil. Sejak Imran meninggal, Maryam diasuh oleh Nabi Zakaria di lingkungan Baitul Maqdis. Selama hidupnya diisi dengan beribadah kepada Allah SWT dan tidak pernah berhubungan dengan laki-laki.

Suatu ketika, Malaikat Jibril diutus Allah SWT untuk memberi kabar bahwa Maryam akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Mendengar berita itu, Maryam merasa bingung dan bertanya: " Mungkinkah aku akan mempunyai seorang anak sedang aku belum bersuami?" Malaikat Jibril pun menjelaskan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Jika Allah menginginkannya, maka akan terjadi karena Allah Maha Kuasa.

Berita yang disampaikan Jibril ternyata benar dan Maryam pun mengandung. Melihat  Maryam hamil tanpa suami, orang-orang mencemoohnya dan menuduhnya sebagai wanita yang hina. Maryam merasa malu, tapi ia sabar dan pasrah dengan semua kehendak Allah. Untuk menghindari ejekan orang, Maryam pun meninggalkan Baitul Maqdis dan pergi ke kampung asalnya di desa Annasirah. Ketika waktu melahirkan pun tiba, Maryam pun meninggalkan rumah untuk mencari tempat sepi dan jauh dari keramaian. Ia berhenti di bawah sebuah pohon kurma dan melahirkan bayi laki-laki. Sesuai petunjuk Malaikat Jibril, bayi itu diberi nama Isa Al-Masih. Tempat lahirnya Nabi Isa AS diberi nama Bait al Lahmi atau dikenal dengan nama Bait Lehem. Orang-orang kini menyebutnya Betlehem.

Setelah melahirkan, Maryam pun pulang bersama putranya. Orang-orang pun kembali mencemoohnya dan menuduhnya sebagai anak haram. Mereka menanyakan bagaimana bisa seseorang wanita melahirkan bayi tanpa seorang suami. Maryam pun tetap diam. Namun karena didesak, Maryam memberi isyarat kepada orang-orang agar menanyakan langsung kepada bayinya. Orang-orang pun heran dan berkata : "Bagaimana mungkin kami dapat berbicara dengan seorang bayi yang masih dalam ayunan?" Dengan kekuasaan Allah, Nabi Isa AS yang masih bayi menjawab, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur'an : 
"Berkata Isa : "Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi." (QS. Maryam : 30).

    b. Nabi Isa AS diangkat menjadi Rasul

Nabi Isa AS tumbuh menjadi anak yang baik. Teman-temannya mengenal dirinya sebagai anak yang taat beribadah, hormat pada orang tua, penyabar, cerdas, dan suka menolong. Teman-temannya pun sangat senang kepadanya.

Ketika Nabi Isa AS berusia 30 tahun, Allah mengangkatnya menjadi Rasul. Saat itu, ia bersama ibunya sedang berada di sebuah gunung bernama Zaitun. Tiba-tiba Malaikat Jibril datang membawa wahyu dari Allah dan memberi kabar bahwa dirinya diangkat menjadi seorang rasul. 

Sejak saat itu, nabi Isa AS mulai menyebarkan wahyu yang ia dapatkan. Kumpulan wahyu yang diberikan kepadanya terdapat dalam kitab suci Injil. Kitab Injil berisi ajaran tauhid, yaitu meng-Esakan Allah SWT.

Begitu juga dalam kitab Injil juga dikabarkan akan datangnya hari kiamat dan seorang rasul terakhir yang menyempurnakan ajaran rasul-rasul sebelumnya, yang bernama Ahmad (Muhammad).

Ajaran yang dibawa Nabi Isa AS menyempurnakan ajaran yang dibawa Nabi Musa AS. Saat itu, banyak pendeta Yahudi yang menyelewengkan ajaran Nabi Musa AS. Para pendeta itu mengajarkan bahwa berkorban harta untuk para pendeta sama dengan berkorban untuk Allah. Akibatnya, para pendeta hidup kaya raya, sedangkan kaumnya hidup menderita.

Nabi Isa AS sangat giat berdakwah. Namun, ia mendapat tantangan yang sangat keras dari para pendeta Yahudi dan para pembesar kerajaan. Mereka takut kehilangan harta yang mereka dapatkan dari kaumnya. Padahal sesungguhnya mereka mengetahui bahwa ajaran Nabi Isa AS adalah benar. Sedikit sekali kaum Yahudi yang mengikuti ajaran Nabi Isa AS. Mereka yang menjadi pengikut Nabi Isa AS ini disebut kaum Hawariyyun

Untuk menghancurkan ajaran Nabi Isa AS, kaum Yahudi menuduh Nabi Isa AS telah memecah belah mereka sehingga membuat para tokoh Yahudi marah. Mereka meminta Nabi Isa AS membuktikan kerasulannya. Allah pun memberi nabi Isa AS mukjizat, antara lain Nabi Isa AS dapat membuat burung dari tanah yang dapat hidup dan terbang, dapat menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta, dapat menghidupkan orang mati, dapat menurunkan makanan dari langit, dan dapat menebak makanan yang dimakan dan disimpan orang.

Melihat semua mukjizat Nabi Isa AS, kaum Yahudi tetap tidak mau beriman. Mereka bahkan meminta pasukan kerajaan untuk menangkap dan membunuh Nabi Isa AS. Nabi Isa AS pun bersembunyi, namun seorang pengikutnya bernama Yudas Iskariot atau lebih dikenal dengan nama Yahuza berkhianat dan menunjukkan tempat persembunyian Nabi Isa AS. Namun Allah melindungi Nabi Isa AS dengan mengangkatnya ke langit. Sedangkan Yahuza Allah menyerupakan dirinya seperti Nabi Isa AS. Tentara kerajaan pun menangkap Yahuza yang dikiranya adalah Nabi Isa AS tersebut, kemudian membunuhnya dengan cara disalib. 






Read more ...

Rabu, 26 Oktober 2016

RPP PAI Kelas 4

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah                       : SD Islam Al Bina Masohi
Mata Pelajaran            : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Kelas/Semester           : IV / Genap
Materi Pokok               : Iman Kepada Rasul Allah
AlokasiWaktu              : 1x 4 JP ( 1x Pertemuan)

A.     Kompetensi Inti (KI)

KI 1      :    Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
KI 2      :    Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru
KI 3      :    Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah
KI 4      :    Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia


B.    Kompetensi Dasar & Indikatro Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar
Indikatro Pencapaian Kompetensi
1.5.     Meyakini adanya Rasul-rasul Allah SWT.

2.5      Menunjukkan sikap yang dipengaruhi oleh keimanan kepada para Rasul Allah Swt. yang tercermin dari perilaku kehidupan sehari-hari

3.5      Memahami makna iman kepada Rasul Allah SWT



4.5      Mencontohkan makna iman kepada Rasul Allah SWT

1.5.1     Yakin adanya Rasul-rasul Allah SWT.

2.5.1     Membiasakan perilaku sabar dalam kehidupan sehari-hari




3.5.1     Menjelaskan makna iman kepada Rasul Allah SWT
3.5.2     Menyebutkan nama-nama rasul Allah SWT

4.5.1     Menghafal nama-nama Rasul Allah SWT
4.5.2     Mengurutkan nama-nama rasul Allah SWT

C.    Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti Pembelajaran melalui Metode Bernyanyi dan Card Short, Peserta didik diharapkan dapat :
1.    Meyakini bahwa Allah AWT memiliki 25 Nabi dan Rasul yang harus di percayai`
2.    Membiasakan sikap sabar dan semangat berjuang dalam kehidupan sehari-hari
3.    Menjelaskan Pengertian iman kepada Rasul Allah SWT
4.    Menghafal serta mengurutkan 25 Nama Nabi dan Rasul

D.    Materi Pembelajaran
1.    Pengertian iman kepada Rasul Allah SWT
2.    25 Nama Nabi dan Rasul yang wajib dipercayai
3.    Contoh Sikap yang diteladani oleh Para Nabi dan Rasul.

E.    Metode Pembelajran
1.    Card Short
2.    Bernyanyi

F.    Media Pembelajaran
1.    Slide Persentase/LKS
2.    Perangkat ICT &Sound
3.    Teks Lagu 25 Nabi dan Rasul
     G.    Sumber Belajar
1.    Al-Qur’an
2.    Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SD/MI Kls IV: Buku Guru dan Buku Siswa. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016.
3.    Lingkungan sekitar sekolah.

H.   Langkah-Langkah Pembelajaran
1.   Kegiatan Pendahuluan
a.  Guru dan siswa berdo’a bersama-sama yang dipimpin oleh peserta didik untuk mengawali pembelajaran
b.    Mengisi lembar kehadiran dan memeriksa kerapihan pakaian, posisi dan tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran
c.     Apresepsi :Meminta peserta didik untuk menyebutkan nama-nama nabi dan rasul yang dihafalnya
d.    Menyampaikan kompetensi dan materi yang akan dipelajari
e.    Mempersiapkan media/alat peraga/alat bantu
2.    Kegiatan Inti
a.  Mengajak Peserta didik untuk mengamati Video tentang Rasul-Rasul Allah melalui tayangan yang ditampilkan
b.    Tanya jawab terkait makna video
c.     Memperkenalkan lagu 25 Nama Nabi (vocal : Dea Ananda)
d.   Guru Memberi contoh yang baik cara bernyanyi lagu 25 Nama nabi dengan baik dan benar.
e. Dengan suara yang kompak, Peserta didik secara klasikal diajak untuk mendramatisasikan lagu 25 nama nabi dan Rasul dengan cara melihat lirik.
f.    Menyanyikan lagu 25 nabi dilakukan secara berulang kali sehingga peserta didik mampu bernyanyi tanpa melihat lirik`
g.   Guru memberi penguatan tentang pengertian iman kepada rasul-rasul Allah dan Rasul Ulul Azmi
h.    Siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok secara heterogen.
i.     Masing-masing kelompok diberi potongan kartu yang berisi 25 Nama Nabi/rasul.
j.  Kemudian kelompok diberi waktu mengurutkan dan mengelompokkan kartu-kartu berdasarkan lagu yang telah mereka hafalkan.
k.    Setiap kelompok mempresentasikan hasil dari kerjasama kelompoknya.
l.     Siswa dibantu oleh guru menyimpulkan pembelajaran yang telah dilaksanakan.
m.  Peserta didik menerima penguatan materi Iman kepada Rasul Allah dan kesimpulan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai
3.    Kegiatan Penutup
a.     Bersama Peserta didik, membuat rangkuman hasil pembelajaran
b.    Melaksanakan evaluasi
c.    Memberi penguatan sekaligus tausiah terkait materi yang sudah di pelajari
d.    Menyampaikan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya

I.     Penilaian Hasil Pembelajaran
1.   Tehknik Penilaian
a.    Sikap                     : Observasi
b.    Pengatahuan        : Tes Tertulis
c.     Ketrampilan          : Unjuk Kerja

2.  Instrumen Penilaian

a.    Sikap Spiritual/Sosial
Bentuk Instrumen            : Jurnal Sikap
Rubrik Jurnal                   :          
NO
WAKTU
NAMA
PESERTA DIDIK
CATATAN PERILAKU
BUTIR SIKAP







b.    Pengetahuan
Soal :
1.    Jelaskan pengertian beriman kepada Rasul Allah !
2.    Tulislah 25 nama nabi dan Rasul yang wajib kita percayai !
Jawaban :
1.    Yakin dan percaya bahwa Allah telah mengutus hamba-hamba pilihanNya sebagai Nabi dan Rasul untuk menyampaikan ajaranNya kepada umat manusia.
2.    1. Adam AS.2. Idris AS.3. Nuh AS.4. Hud AS.5. Soleh AS.6. Ibrahim AS.7. Luth AS.8. Ismail AS.9. Ishak AS.10. Yakub AS.11. Yusuf AS.12. Ayub AS.13. Sueb AS.14. Musa AS.15. Harun AS.16. Zulkifli AS.17. Daud AS.18. Sulaiman AS.19. Ilyas AS.20. Ilyasa AS.21. Yunus AS.22. Zakaria AS.23. Yahya AS.24. Isa AS.25. Muhammad SAW.

Kriteria Penilaian  :
Setiap Jawaban Benar dan lengkap skor 10

Penskoran :
 Skor Perolehan/Skor Maksimal x 100 = Skor Akhir

c.    Ketrampilan
Rubrik menyortir kartu 25 Nama nabi dan rasul  :
NO
Nama Siswa
ASPEK
Jum
Skor
Semangat
Aktif dalam kelompok
Inisiatif
1.
Azwan





2.
Yahya





3.
Dst…..






Kriteria Penilaian :
Baik Sekali           = 4
Baik                      = 3
Cukup                  = 2
Kurang                 = 1

Penskoran :
        Skor Perolehan/Skor Maksimal x 100 = Skor Akhir




                       Mengatahui,                                                      Masohi, ……………………2016
          Kepala Islam Al Bina Masohi                                                     Guru PAI &BP




          Darno Yusuf Mulyono, S.PdI                                                 D. Yusuf. M, S.PdI
          NIP. 19831210 200804 1 001                                         NIP. 19831210 200804 1 001








Lampiran                   : Lembar Penilaian
Ketrampilan menyortir kartu 25 Nama nabi dan rasul
NO
Nama Siswa
ASPEK
Jum
Skor
Semangat
Aktif dalam kelompok
Inisiatif
1
Abdul Latif Karepesina





2
Achmed Syaddad Sahib





3
Alfan Khair





4
Diah Nutia Inayah





5
Dzakir Mahfudz Mukadar





6
Fidya Anggi Lahamina





7
Mentari Nurul Rahma Suyoto





8
Misbahul Munir





9
M. Fikran Fauzan Wakano





10
M. Fikri Fauzi Wakano





11
Nafisah Huraiyah Ode





12
Nur Afifah Toraha





13
Raihan Arkan Haidar





14
Reskianti As Syahrani





15
Salma Ohoibor





16
Shanaya Aleyda Shabira





17
Syahifman Arfah Leuly





18
Tamamul Azhar





19
Wa Ode Safa Riski





20
Wildan Nada Muadzan





21
Khanaya E. Salsabila Pattiiha










Lampiran                   : Lembar Lirik Lagu 25 Nama Nabi


Judul : 25 Nabi dan Rasul
Vocal : Dea


Ya Dana.. Ya Dana.. Ya Dana.. Dana
Ya Dana.. Ya Dana.. Ya Dana.. Dana

Adam Idris Nuh Hud Saleh
Ibrahim Luth Ishak
Ismail Yakub dan Yusuf
Syuaib Harum Musa Daud
Zulkifli Sulaiman

Ayub Yunus Zakaria
Ilyas dan Ilyasa
Yahya Isa dan Muhammad
Itu semuanya Nabi
Kita Orang Islam

Dua puluh lima Nabi
Nabi Umat Islam
Dua puluh lima Nabi
Itu utasan Allah

Ya Nabi…. Ya Rasul …
Ya Nabi…. Ya Rasul …




Lampiran                   : Lembar Kerja

Mengurutkan 25 Nama nabi dan Rasul




Urutkan nama-nama Nabi dan Rasul di bawah ini secara
berurutan!


ADAM
NUH
SOLEH
IBRAHIM
YUNUS
YUSUF
ISMAIL
IDRIS
YAAKUB
SYU'AIB
HARUN
MUSA
HUD
ILYAS
DAUD
ILYASA
ZAKARIYA
ISHAK
YAHYA
ISA
ZULKIFLI
SULAIMAN
LUTH
MUHAMMAD
AYUB







Read more ...
Designed Template By Blogger Templates - Powered by Sagusablog